Selasa, 17 Januari 2012

Lalu Mara: Di Pelita, RD Bisa Mendunia

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelita Jaya terus berusaha memboyong mantan pelatih tim nasional U-23, Rahmad Darmawan. Bila bergabung bersama "The Young Guns", pelatih yang akrab disapa RD itu diyakini dapat memiliki kesempatan besar mengembangkan karier di level internasional.

Hal itu disampaikan oleh Manajer Pelita Jaya, Lalu Mara, kepada wartawan di sela-sela acara diskusi sepak bola bertajuk "Tinjauan Kongres Luar Biasa (KLB) dari Sisi Hukum Olahraga" di Hotel Century, Senayan, Senin (16/1/2012). Lalu Mara mengatakan, Pelita kembali mengalihkan usahanya merekrut RD setelah rencana mendatangkan Dollas Saleh gagal di tengah jalan. Saat ini Dollah masih terikat kontrak dengan klub Malaysia, Selangor FA.

"Saya sudah bertemu dengan RD dan Edisyah (agen RD). Saya sampaikan, jika beliau bergabung dengan Pelita Jaya, kesempatan mendunia terbuka lebar. Kesempatan berkarier dan belajar di klub luar terbuka untuk RD karena Pelita jaya bisa akses ke Brisbane Roar dan VS Vise," kata Lalu Mara.

Pelita harus bergerak cepat untuk mendatangkan RD karena pelatih asal Lampung itu juga diincar oleh PSAP Pidie, Persas Sabang, dan Persiba Balikpapan. Lalu Mara mengatakan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf juga sudah menghubungi mantan pelatih Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, dan Persija Jakarta tersebut. "Kita tunggu jawaban dia 2x24 jam karena Pelita tidak memiliki head coach," ujarnya.

Lalu Mara menilai, sebagai pelatih muda usia, RD merupakan sosok tepat untuk menangani Pelita yang didominasi pemain muda. Ia mengakui bahwa timnya belum menentukan sosok alternatif jika gagal mendatangkan RD.

RD mengakui masih terus berkomunikasi dengan Pelita. Namun, ia masih merahasiakan klub mana yang akan dipilihnya. "Semoga akan segera menemukannya. Jika memilih yang pasti, saya akan pilih yang sesuai dengan hati saya sendiri," katanya.

WAWANCARA Djohar Arifin Husin: Tunjukkan Pasal Mana Yang Kami Langgar

RMOL. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin menganggap, usulan Kongres Luar Biasa (KLB) merupakan tindakan yang tidak berdasar.

“KLB dilakukan kalau ada statuta yang dilanggar. Nyatanya tidak ada satu pun pasal di statuta yang kami langgar,” tandas Djohar Arifin Husin, kepada Rakyat Merdeka, Jumat (13/1).

Seperti diberitakan, beberapa orang yang tergabung dalam Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) mengajukan diselenggarakan KLB. Mereka menganggap PSSI di bawah kepengurusan Djohar Arifin telah melanggar statuta PSSI.

Perpecahan di PSSI dipicu dua­lisme kompetisi, Indonesia Super League (ISL) dan Indo­nesia Pre­mier League (IPL). Para pemain tim nasional yang ber­main di ISL tak bisa memperkuat tim nasional Indonesia karena IPL merupakan liga resmi PSSI. Sementara FIFA sudah memberi batas waktu hingga 26 Maret 2012, bila kon­flik belum selesai, Indonesia akan terkena sanksi.

Menurut Djohar, semua yang di­lakukan di PSSI harus ber­dasarkan aturan. Tidak begitu saja bisa berjalan tanpa aturan. Untuk itu, PSSI tidak mau terlalu mengurusi hal tersebut. Sebab, masih banyak program yang akan dijalankan PSSI ke depan.

“Kita fokus ke program yang sudah kami rancang. Untuk ma­salah itu, ada tim yang mengu­rusi,” tandas Djohar.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa PSSI terus gaduh?

Terus terang, masyarakat muak melihat keributan terus seperti ini. Kami akan berkonsentrasi ke program saja.

Kami lihat masyarakat Indo­ne­sia menginginkan adanya pres­tasi bagi sepak bola Indone­sia. Ka­rena itu, kami akan kon­sentrasi mempersiapkan pro­gram dengan matang, bukan membuang energi.

Kepengurusan Anda baru ter­bentuk, kenapa digoyang?

Saya menganggap kami di sini ibarat dikontrak untuk membuat rumah, dengan target 2015 se­lesai. Namun sekarang ketika kami baru membangun fondasi, tiba-tiba kami diminta untuk menunjukkan jendela dan ubin dari bangunan itu.

Hasil yang kami buat saat ini akan terlihat 2015. Nah ketika itu sudah jadi dan ternyata jendela dan ubinnya tidak bagus, silakan marahi kami. Tapi saat ini kan posisi kami baru menjalankan proses itu.

Anda dituduh melanggar sta­tuta?

Tolong tunjukkan pada saya, pasal dan bagian statuta mana yang kami langgar. Tidak ada statuta yang kami langgar.

Kalau terkait penetapan klub dari 18 menjadi 24?

Kita kan dari nol semua, begitu Asian Football Confederation (AFC) mengatakan kita belum ada klub profesional, semuanya kan dianggap nol. Kami diberi­kan dispensasi selama tiga tahun, deadline-nya 13 Oktober 2011. Artinya klub apa saja anggota PSSI bisa menjadi profesional asalkan memenuhi lima kriteria yang diminta AFC.

Maka klub-klub itu berlomba. Setelah diverifikasi, sebenarnya ada 36 klub.

KPSI meminta PSSI agar me­ngikuti kongres di Bali, tangga­pan Anda?

Kami berpedoman pada reka­man dan notulen rapat pada kongres di Bali. Tidak ada satu pun keputusan dari hasil kongres Bali yang kami langgar.

Bagaimana dengan hasil du­kungan KLB yang diberikan KPSI?

Verifikasi dukungan KLB itu sudah tahap pertama. Nanti ada tahap kedua.

Tapi terus terang kami katakan, Komite Eksekutif dengan pertim­bangan yang sangat matang, menolak diselenggarakannya KLB. Karena kalau KLB, harus ada pasal di statuta yang di­langgar.

Anda mengatakan akan fo­kus pada program, apa saja itu?

Ada berbagai turnamen sepak bola di luar negeri, seperti di Hong Kong untuk usia pemain U-17. Kemudian kami kerja sama dengan Universitas Gunadarma untuk meningkatkan sistem informasi. Bulan ini launching.

Ada juga kerja sama dengan televisi untuk mencari sponsor­ship. Televisi Malaysia ingin menyiarkan kompetisi kita di sana. Mereka menganggap ada market, yaitu warga Indonesia yang bermukim di Malaysia. Palestina pun seperti itu, bulan Mei kami diundang.

Bagaimana MoU dengan BPKP?

Ini kerja sama penting bagi kami. Kami minta dukungan BPKP agar tata kelola keuangan PSSI benar. Kami minta kepada semua pemain, official, perangkat pertandingan agar fair play mengelola keuangan.

Fair play itu bukan hanya di lapangan, tapi juga dalam mana­jemen kami. Makanya kami me­minta dukungan BPKP, diharap­kan membawa angin segar karena kita memerlukan kepercayaan masyarakat. [Harian Rakyat Merdeka]

FIFA Tidak Restui KLB?

Bola.net - Di tengah maraknya manuver para pengusung Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI untuk meneruskan niatan mereka, muncul kabar bahwa tindakan mereka tidak akan direstui FIFA. Otoritas tertinggi sepak bola dunia itu disebut-sebut telah mengirimkan surat pada PSSI terkait sikap mereka mengenai rencana KLB.

Menurut kabar yang beredar, FIFA memutuskan tidak akan memberikan restu atas digelarnya KLB. Mereka juga, disebut-sebut, memerintahkan pada PSSI untuk meneruskan program kerja mereka, tanpa menghiraukan tuntutan KLB tersebut.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PSSI, Tondo Widodo mengakui telah mendengar adanya kabar surat dari FIFA ini. Namun, dia menambahkan bahwa sampai saat ini belum melihat surat tersebut.

"Saya juga dengar. Tapi, sampai saat ini, belum melihat suratnya. Katanya, sore ini akan ada konferensi pers mengenai hal ini. Saya juga belum tahu detailnya," ungkap Tondo pada Bola.net.

Apabila memang FIFA mengirimkan surat pernyataan seperti yang dikabarkan ini, maka ini merupakan kali kedua mereka menolak usulan KLB. Sebelumnya, mereka juga menolak diadakannya KLB dan meminta agar pihak-pihak yang berkepentingan di sepak bola Indonesia untuk melakukan rekonsiliasi. (den/mac)

FIFA Ingin PSSI Gelar Konggres Tahunan, Bukan KLB

Jakarta - FIFA dan AFC menyarankan agar PSSI menggelar kongres tahunan demi menyelesaikan kisruh yang terjadi di induk sepak bola tertinggi di Indonesia itu. Kongres tahunan ini digelar selambat-lambatnya sebelum 20 Maret demi menghindari kemungkinan sanksi dari Komite FIFA.

Hal itu tertuang dalam surat FIFA kepada PSSI tertanggal 13 Januari. Surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal AFC Alex Soosay dan Sekjen FIFA Jerome Valcke tersebut merupakan surat balasan atas surat yang dikirimkan oleh PSSI terkait usulan KLB dari KPSI. FIFA dan AFC dalam posisi tidak berkomentar terkait penyelenggaraan KLB. Kedua badan tersebut hanya menyarankan agar PSSI segera melaksanakan kongres tahunan yang harus dilaksanakan sebelum 20 Maret 2012.

"Menyadari masalah yang dihadapi sepak bola Indonesia, FIFA dan AFC merekomendasikan agar PSSI segera menyelenggarakan kongres biasa untuk memastikan sesuai statuta dan menyelangarakan sebuah forum untuk mencari solusi. Kami juga mengingatkan (PSSI) akan deadline yang terpapar dalam surat kami tertanggal 21 Desember 2011 dan kongres biasa harus digelar sebelum 20 maret 2012 untuk menghindari kemungkinan sanksi dari Komite Asosiasi FIFA," tulis FIFA dalam surat tersebut.

Permintaan FIFA dan AFC tersebut disambut baik oleh PSSI. Menurut Deputi Sekjen PSSI Saleh Mukadar, PSSI akan menggelar kongres tahunan pada 18 Maret mendatang. "Tempatnya di wilayah Jabodetabek," kata Saleh kepada wartawan di kantor PSSI, Selasa (17/1/2012).

Ia mengatakan, delapan pekan sebelum kongres tahunan digelar, PSSI akan memberitahukan kepada seluruh anggota PSSI yang memiliki suara baik Pengprov PSSI, klub profesional Indonesian Premier League (IPL), serta klub amatir, dan asosiasi. "Empat pekan sebelum kongres digelar, PSSI akan memberitahukan agenda yang akan dibahas," ujarnya.
Sumber : kompas.com

Kepolisian Bakal Larang Laga Persik Di Stadion Brawijaya


Ratno mengatakan, pihaknya mengancam tidak akan memberikan ijin pertandingan sepakbola di Stadion Brawijaya.

Arief Setiadi
Persik Kediri terancam tidak bisa bermain di kandang sendiri. Pasalnya, pihak kepolisian mengancam tidak akan mengeluarkan ijin pertandingan, setelah insiden bentrok antarsuporter terjadi saat Persik menjamu PSS Sleman, Jumat (13/1) lalu.

Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro mengatakan, pihaknya mengancam tidak akan memberikan ijin pertandingan sepakbola di Stadion Brawijaya, jika dikhawatirkan insiden bentrok fisik antarpenonton bakal pecah kembali.
"Karena saya masih baru sebagai Kapolres Kediri Kota, maka saya harus mengevaluasi hasil pertandingan kemarin. Saya rasa masih banyak sekali peluang yang bisa menyebabkan bentrok fisik antarpenonton sepakbola. Oleh karena itu, ke depan, jika memang tidak memungkinkan digelar pertandingan, maka kami tidak akan memberikan ijin keamanan," tegas AKBP Ratno Kuncoro, Selasa (17/1).

Kepolisian tidak ingin ada keributan yang melibatkan masyarakat, sehingga pelaksanaan pertandingan sepakbola perlu dikaji dari segi pengamanan. Insiden tawuran antarsuporter beberapa hari lalu karena kurangnya koordinasi panitia pelaksana dengan pihak keamanan.

Sebelumnya puluhan ratusan penonton yang ditengarai oknum Persikmania terlibat adu jotos dan pelemparan dengan puluhan suporter PSS Sleman, di tribun sebelah utara. Insiden terjadi saat Slemania, julukan pendukung fanatik PSS Sleman, bersorak gembira merayakan gol bagi timnya. Tiba-tiba ada oknum beratribut Persikmania menyerang kelompok suporter PSS Sleman. Sehingga aksi tawuran tak terhindarkan. Dalam pertandingan itu, Persik harus rela berbagi poin dengan tamunya PSS Sleman dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama LPSI musim 2011/12, dengan skor akhir 2-2. (gk-29)

PSSI Sumbar: KLB Untuk Luruskan Program Kerja


Ketua PSSI Sumbar menilai Kongres Luar Biasa perlu digelar untuk dapat menyelesaikan konflik yang terjadi saat ini.


Donny Afroni
Ketua PSSI Sumatera Barat Armyn An, mengungkapkan Kongres Luar Biasa (KLB) yang dipersiapkan oleh Komite Penyelamat Sepakbola Nasional (KPSN) bertujuan untuk memperbaiki program kerja PSSI yang melenceng sejauh ini.

"Adanya rencana KLB, merupakan hal yang wajar untuk disikapi PSSI pusat, dan itu sangat berkaitan dengan program kerja yang salah selama ini," kata Armyn
Selain itu, kongres tersebut juga bertujuan untuk mencari solusi adanya konflik dualisme kompetisi yang sedang terjadi saat ini, yaitu adanya Liga Prima Indonesia (IPL) dan Superliga Indonesia (ISL). Oleh karena itu, sarana kongres sangat diperlukan untuk mendapatkan kesepakatan bersama.

"Keputusan PSSI telah banyak menyimpang dari yang sebenarnya, sudah sepatutnya itu dikoreksi," katanya.

CEO PSM: Srecko Mitrovic Hengkang Dengan Gratis


Rully Habibie menyatakan Srecko Mitrovic dapat memutuskan keluar dari PSM kapanpun, dan tanpa ada sanksi, karena hal tersebut tertuang dalam kontrak.

CEO PSM Makassar Rully Habibie membantah adanya fee atau kompensasi dana yang diterima oleh pihaknya, terkait dengan hengkangnya pemain asing Srecko Mitrovic ke klub lain.

Seperti yang dilansir Sindo, Rully mengungkapkan hengkangnya Mitrovic dengan gratis meskipun kompetisi sudah berjalan tidak menyalahi kontrak. Karena dalam kontrak yang disepakati memang ada pasal yang menyebutkan bahwa sang pemain dapat keluar dari tim bila memang menginginkannya dan tanpa ada sanksi apapun.
“Jadi tidak ada kompensasi yang diterima tim. Mitrovic juga tidak melanggar satu pasal pun dalam kontrak. Keputusan pindah adalah keinginan dia dan itu terwadahi dalam kontrak,”katanya.

Pernyataan Rully sekaligus membantah spekulasi nilai jual Mitrovic yang dikabarkan mencapai Rp1 miliar ke salah satu klub asal China. Rully mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut, ia menilai hal tersebut terjadi karena kontrak Mitrovic yang tidak terbuka. "Persoalan PSM tidak mendapat kompensasi dari lepasnya Mitrovic tentu mengundang banyak pertanyaan. Apalagi dari awal kontrak Mitrovic juga dinilai tak terbuka," ujar Rully.